Namanya Samad. Pekerjaan sehari-hari laki-laki 35 tahun ini adalah petani tambak udang dan bandeng seluas kurang lebih 2 hektar di daerah rawa-rawa, di belakang hutan bakau daerah Guntung, Bontang. Lokasinya bersebelahan dengan pabrik urea terbesar di Indonesia, PT Pupuk Kaltim.
“Kejadian itu terjadi pada tahun 2004. Seperti biasa, saya membuka pintu air agar tambaknya tidak meluap. Belum lima menit saya membuka pintu air, tiba-tiba dari arah belakang seekor buaya muara menerkam saya. Beruntung saya bisa lepas, namun perut dan pantat saya sobek oleh gigitan buaya tersebut”, kenangnya sambil menujukkan bekas jahitan akibat gigitan monster ganas itu.
Buaya muara (Crocodylus porosus) merupakan satwa yang dilindungi dan terkenal dengan keganasannya. Disebut buaya muara karena buaya ini hidup di sungai-sungai dan di laut dekat muara. Daerah penyebarannya dapat ditemukan di seluruh perairan Indonesia. Moncong spesies ini cukup lebar dan tidak punya sisik lebar pada tengkuknya. Sedangkan panjang tubuh termasuk ekor bisa mencapai 12 meter seperti yang pernah ditemukan di Sangata, Kalimantan Timur. Di habitatnya, buaya adalah predator yang mematikan. Buaya muara yang sudah tumbuh besar tidak memilih-milih mangsa mulai dari ikan, hewan mamalia kecil atau besar, bahkan manusia. Sebagai karnivora sejati, buaya dapat memakan hewan yang mati (scavenger) maupun berburu mangsa yang masih hidup (hunter). Buaya tidak memiliki gigi pencabik, sehingga teknik melumpuhkan dan memangsa makanannya terlihat sangat mengerikan. Buaya akan menyeret, menenggelamkan, melempar, dan memutar tubuhnya untuk memotong buruannya, kemudian menelannya bulat-bulat. Buaya mempunyai teknik berburu yang ulet, mampu berburu secara senyap di air keruh, dan menyergap dengan cepat dan tiba-tiba. Buaya juga terkenal sabar dalam menunggu mangsanya, sanggup mengintai dan tidak makan dalam tempo yang lama. Konon karena keuletannya ini, buaya termasuk hewan yang sanggup bertahan hidup sejak jaman Dinosaurus.
Kasus Samad adalah satu di antara sekian bukti tentang keganasan satwa ini. Di sungai Kenyamukan, sekitar 5 km dari Kota Sangata, buaya muara betina berbobot 400 kg dengan panjang 5 meter pernah memakan seorang anak berumur 13 tahun pada tahun 2003. Sebelumnya seekor buaya muara yang diperkirakan jantan juga menerkam seorang pria yang sedang memancing. Beruntung pria tersebut dapat lepas dengan luka yang parah. Penduduk setempat menjulukinya dengan “Monster Sangata”. Dalam catatan kami, sungai-sungai di dalam kawasan Taman Nasional Kutai antara lain muara Sungai Sangkima, Sungai Sangata, Sungai Kandolo, dan Sungai Teluk Pandan adalah habitat satwa buas ini. Di sungai Sangkima, pada tahun 1997-an tercatat dua orang tewas digigit buaya. Tahun 2005, buaya Sungai Sangata dilaporkan juga meminta korban seorang laki-laki. Tahun 2006, buaya Sungai Teluk Pandan juga memakan korban seorang anak-anak. Tahun 2008 dilaporkan bahwa seorang laki-laki sedang mencuci motor di dekat Sungai Kandolo dan juga menjadi korban keganasan predator ini.
Konflik antara manusia dan buaya diduga akibat dari semakin terdesaknya habitat buaya karena kegiatan manusia. Kasus-kasus manusia diserang atau dimakan buaya adalah pertanda bahwa telah terjadi perebutan tempat antara buaya dan manusia. Taman Nasional Kutai merupakan salah satu kawasan konservasi yang melindungi habitat-habitat buaya agar keseimbangan ekosistemnya terjaga. Keberadaannya semestinya dijaga dan dipertahankan agar konflik antara buaya dan manusia dapat dihindarkan. <pasakbumi>

pasakbumi
Lebih dari setengah abad kawasan hutan di bagian timur Kalimantan yang kemudian dikenal sebagai Taman Nasional Kutai (TN Kutai), bertahan dengan segala perubahan seiring dengan perkembangan jaman dan kondisi sosial disekitarnya. Benteng terakhir hutan tropis dataran rendah ini telah mengalami penyusutan dan tekanan sebagai akibat dari perkembangan tersebut. Upaya mempertahankan warisan alam yang tiada gantinya ini terus dilakukan dengan segala tantangan, kendala dan keterbatasannya.
Buletin Pasakbumi edisi kali ini menyoroti upaya penegakan hukum sebagai sebuah momentum untuk mengembalikan kelestarian TN kutai yang telah mengalami kerusakan terutama di bagian timur. Di tengah dinamika yang terus berjalan, sutikan moral dan semangat datang dari Dirjen PHKA yang berkesempatan untuk melakukan kunjungan lapangan sekaligusground chek’ di TN Kutai sekaligus menegaskan bahwa kawasan yang diusulkan untuk dilepas (enclave) akan tetap dipertahankan sebagai kawasan konservasi . Inisiatif untuk terus mengurai berbagai persoalan kawasan konservasi ternyata tidak hanya datang dari Pemerintah, bahkan Departemen Kehakiman Amerika Serikat melalui ICITAP juga turut memberikan support dan fasilitasi untuk menyelesaikan melalui serangkaian rapat koordinasi dengan para stakeholder untuk menyerasikan derap dan langkah, mengatasi permasalahan yang ada.
Pembaca yang budiman, edisi perdana 2009 ini kembali melakukan inovasi dalam tampilan yaitu lebih ringkas dan ‘imut’ dalam ukuran namun tidak mengurangi bobot materi yang disajikan. Hal ini dimaksudkan agar buletin ini mudah dibawa dan dibaca. Selamat mencoba tampilan baru ini.<Redaksi>

untuk informasi lebih lanjut silahkan klik
http://www.tnklestari.wordpress.com
Selamat datang di blog Taman Nasional Kutai
Anda dapat memperoleh informasi yang lain tentang Taman Nasional Kutai melalui :
http://www.tnklestari.wordpress.com
atau
http://www.tnkutai.com